Antara moge, rakyat, dan kuliah saya
Selamat sore negara Indonesiaku yang tercinta dan selamat ulang tahun ke-70. Godspeed. Dimulai dari perbincangan santai di LINE group, akhirnya gue mencoba untuk mulai nulis, so congrats! What you see now is my first "nulis niat" in years. Baru2 ini mungkin insiden pesepeda yang menghadang konvoi moge (motor gede) yang berlangsung di Jogjakarta beberapa hari […]

Selamat sore negara Indonesiaku yang tercinta dan selamat ulang tahun ke-70. Godspeed.

Dimulai dari perbincangan santai di LINE group, akhirnya gue mencoba untuk mulai nulis, so congrats! What you see now is my first "nulis niat" in years.

Baru2 ini mungkin insiden pesepeda yang menghadang konvoi moge (motor gede) yang berlangsung di Jogjakarta beberapa hari yang lalu yang lagi rame didiskusikan oleh masyarakat indonesia. Ini, mungkin atau mungkin juga tidak, berawal dari video ini:

Jadi di video berdurasi 8 menitan ini sang pesepeda mencoba untuk menghadang konvoi yang dilalui oleh konvoi moge dengan berdiri dengan sepedanya di zebra cross ketika lampu merah, dan mencoba mengingatkan polisi yang menjaga di sana agar konvoi tetap mematuhi aturan lampu lalu lintas. "Lampu merah, Pak!" sahutnya berkali-kali sepanjang video. pada beberapa bagian di video setelah itu, konvoi pun sempat berhenti di lampu merah setelah akhirnya polisi ikut turun tangan untuk memberhentikan mereka.

Hal ini mengundang banyak reaksi publik di sosial media, baik positif maupun negatif. Nah sedangkan reaksi pertama gue habis liat video ini? Wow this guy is both brave and crazy! tapi orang ini jadi inspirasi pertama gue untuk nulis lagi. My thanks to you dude!

Elanto Wijayanto adalah nama sang pesepeda yang menurut gue sangat gila dan berani tersebut, dan menariknya lagi setelah saya baca di sini, ternyata tindakan Mas Elanto ini sebenarnya sudah direncanakan dan diperhitungkan secara matang oleh dirinya sendiri, bukan merupakan tindakan spontan. Mas Elanto juga menyampaikan pentingnya warga sebagai sesama masyarakat untuk saling mengingatkan, dan komunikasi antar masyarakat selalu diperlukan. oleh karena itu gue mungkin harus mencabut kata "gila" dari ucapan saya tadi. Tapi "gila" tidak harus berkonotasi negatif bukan? there's also crazy in a good way.

Nah kalau tadi insight dari Mas Elanto, sekarang gue mau tau insight dari pengendara moge, dan dari yang saya baca di sini, sebenarnya acara konvoi ini dilakukan untuk memperingati HUT RI ke-70, dan sudah mendapatkan izin dari polisi untuk melakukan konvoi. Gue juga mendapatkan insight dari temen yang juga anak moge yang mengatakan bahwa karena kasus ini, pengendara moge dicap dengan buruk oleh banyak kalangan, dan sebenarnya acara konvoi ini sangat berarti untuk mereka.

Gue percaya bahwa masing-masing pihak pasti punya niatan yang baik dalam tindakannya, Tapi bukan berarti gue naif. Gue menganalogikan semua stakeholders (institusi, masyarakat, perkumpulan, dan sistem) sebagai satu pohon apel yang besar, so there must be some good apples and some bad apples karena ternyata kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kejadian ini tetap terjadi dan masing-masing pihak merasa dirugikan. Tapi jika kita mau pohon ini tetap tumbuh dan menghasilkan buah yang baik, sudah tentu kita harus merawatnya dengan baik juga bukan?

terus kalo gitu win-win solutionnya apa?

nah sekarang gue mau cerita dikit tentang diri gue, tenang aja tetep nyambung kok, ini supaya ada background aja nanti atas solusi yang mau gue omongin. Gue sekarang lagi melanjutkan studi magister di UNSW di Sydney, Australia. Pada salah satu kelas yang gue ambil, yaitu Creativity and Innovation in Marketing, ada bagian menarik yang gue pengen share, yaitu tentang human-centered design. Apa lagi tuh?

Human-centered design adalah pendekatan secara kreatif terhadap suatu masalah. Dikembangkan oleh IDEO.org, salah satu global consultant di bidang desain, proses ini berawal dari tujuan dari desain ini sendiri yaitu orang yang memiliki kebutuhan atau masalah hingga pada akhirnya kita dapat merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Solusi ini dapat berupa produk, jasa, a change in a system, or anything that could add meaningful value to the existing condition. Pada dasarnya, human-centered design ini memiliki 3 fase:
  1. Inspiration phase: fase di mana kita akan mendapat masukan dari orang yang akan menjadi target desain kita dan dapat mengerti kebutuhan mereka.
  2. Ideation phase: this is where the fun begins, di sini setelah kita mengetahui masalahnya, kita dapat mencari ruang untuk perubahan dan improvement, dan merancang solusi-solusi yang memungkinkan untuk dilakukan.
  3. Implementation phase: di sini yang paling penting, yaitu merealisasikan solusi tersebut dan pada akhirnya menerapkannya untuk target desain kita.
Balik lagi ke kasus moge, mengutip kata-kata Mas Elanto, komunikasi antar masyarakat sangat diperlukan. Saya setuju, namun definisi masyarakat di sini harus diperjelas menjadi semua stakeholders (pada kasus ini pengguna jalan sebagai yang memiliki hak, pemerintah yang merancang peraturan, dan polisi yang memiliki kewenangan dan bertugas untuk pengawasan) karena masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Mungkin ke depannya, jauh sebelum acara ini dimulai, dilakukan forum diskusi dan musyawarah antar stakeholders agar mereka saling mengerti kebutuhan satu sama lain. Ngga perlu bikin forum yang serius, misalnya jalan-jalan bareng keliling kota untuk lihat permasalahan di lalu lintas, lalu sehabis itu diskusi santai di taman untuk idea brainstorming. Atau buat wadah online di mana semua stakeholders bisa menyuarakan pendapatnya, the possibilities are infinite! and that's the beauty of creativity. Menurut saya ini merupakan langkah konkrit awal yang sebenarnya mudah jika ada niatan baik dari semua pihak untuk membuat perubahan yang baik bagi kehidupan bermasyarakat. Jadi dari pada saling menyalahkan, lebih baik bersama-sama kita berkolaborasi untuk menciptakan kehidupan yang baik bagi kita semua. Do not look at the world just from your own perspectives, learn to look from other's. Mungkin saja saya salah sok tau, sok pinter, sok english atau mungkin juga saya benar, tapi jika tidak dicoba, kita tidak akan pernah tau hasilnya kan? Warmest regards, Hadi