Sotoy Menganalisa Lagu : Hagia
Sempurna yang kau puja,dan ayat-ayat yang kau baca, Tak kurasa berbeda, kita bebas untuk percaya "Seperti kamipun mengampuni, yang bersalah kepada kami" Ketika pertama kali gua denger lagu Barasuara yang ini, gue denger secara live. Lagu ini sangat berkesan malam itu karena line-up vokal Barasuara yang cukup unik (atleast untuk band Indonesia), yaitu 2 vokalis […]
Sempurna yang kau puja,dan ayat-ayat yang kau baca, Tak kurasa berbeda, kita bebas untuk percaya "Seperti kamipun mengampuni, yang bersalah kepada kami"
Ketika pertama kali gua denger lagu Barasuara yang ini, gue denger secara live. Lagu ini sangat berkesan malam itu karena line-up vokal Barasuara yang cukup unik (atleast untuk band Indonesia), yaitu 2 vokalis perempuan dan vokalis/gitaris Iga Massardi juga ikut bersuara, dicampur dengan lirik yang cukup menohok buat gua. Terlepas dari kontroversi "polisi skena", gua suka sama barasuara. Musiknya asik, (gua agak joget pas live, padahal lagunya baru pertama kali denger) live actnya enerjik dan vokalisnya suka ngomong jorok (ngomong ngentot jorok ga sih?). Tapi entah kenapa, ketika lagu yang berjudul Hagia ini dibawain, gua terhenyak. Liriknya sedikit, dinyanyikan secara repetitive layaknya dzikir atau doa, dan ketika tempo mulai naik dan fill-in gitar mulai masuk, gua deg-degan nunggu apa yang bakal keluar dari lagu ini. Built-up mulai memuncak, dan ketika keluar suara yang menyuarakan lirik dari mulut Iga, Puti dan Asteriska, dalam hati gua teriak, "LAH LAH INI KAN?!?!". ---- Flashback ke Haji-Nawi 21 dimana gue spent 9 tahun melewati masa SD dan SMP di Pangudi Luhur. Pangudi Luhur adalah pengalaman yang unik buat gue ketika gue recall lagi sekarang. Disitu gue adalah minoritas namun ga ngerasa sebagai minoritas. Ya, Pangudi Luhur adalah sekolah katolik, dimana gue beragama Islam. Pengalaman gua bersekolah di Pangudi Luhur adalah sesuatu yang sangat berharga buat gua, dan memberikan pengaruh besar ke cara gue bersosialisasi sebagai manusia, dan membuat gua trenyuh ngeliat keadaan dunia saat ini. Sebagaimana sekolah islam melaksanakan aktivitas dengan cara-cara Islam, Pangudi Luhur juga begitu. Ada saat dalam hidup gua, dimana gua lebih afal doa Bapa Kami dan Salam Maria daripada Surat Al-Falaq hehehe. Gua agak lupa, cuma pas di PL itu kita ketika masuk kelas harus berdoa dulu, kalau nggak salah pas Masuk kelas itu baca "Bapa Kami" bareng-bareng sekelas, pas mau istirahat baca "Kemuliaan" terus pas mau pulang "Salam Maria". Dibacakan disini itu di vokalkan ya, bukan dibaca dalam hati hehe. Rutinitas itu terus berlangsung selama 9 tahun, jadi ya wajar lah gue afal. Dan pengalaman yang paling gue enjoy ketika 9 tahun itu adalah ketika sesi bernyanyi pas misa kudus berlangsung di aula sekolah. Lagu-lagunya catchy dan liriknya kece. One of the song that are quite stuck in my head (bersaing keras dengan Hey Jude-nya The Beatles) adalah Doa Bapa Kami yang dilagukan. Ini dia liriknya: Bapa kami yang ada di surga Dimuliakanlah namaMu Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu Di atas bumi seperti di dalam surga Berilah kami rezeki pada hari ini Dan ampunilah kesalahan kami Seperti kamipun mengampuni Yang bersalah kepada kami Dan janganlah masukkan kami kedalam pencobaan Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat ---- Balik lagi ke parkir timur senayan, dalam hati gue mikir "Anjing, kece/berani juga ni doi bikin lirik, masukin penggalan doa di lagunye!" Lo kalo lagi nonton live, kalo lagunya lo ga tau, lo pasti lebih merhatiin lagunya kan bukan liriknya? Apalagi didukung sound yang kurang memadai jadi kurang clear vokalisnya membunyikan liriknya. Liriknya aja ga tau, apalagi tema dan maksud dari lagu itu. Tapi setelah penggalan lirik bapa kami itu keluar dan dinyanyikan secara repetitive dan gospel-like, I am fucking sure this song is about religion tolerance/equality/motherfucking peace on earth. I don't know why, but this song kinda approves pemikiran gue dimana gue ngerasa toleransi yang gue rasakan pas gue di Pangudi Luhur itu indahnya bukan main. Akhirnya setelah gue youtube, googling sampe akhirnya beli CDnya, gue baru tau judul lagu itu adalah "Hagia", yang saat itu gue masih mempertanyakan maksud dari judulnya. Pertanyaan gue terjawab ketika gua pulang nonton dari Pacific Place. Malem itu gue nganterin pulang (mantan) pacar, dan entah kenapa waktu itu kita ambil rute fly-over antasari instead of the usual routes, dan karena udah malem jadi kosong gitu walaupun karena hujan, jadi ga bisa ngebut. Gua pasang CD Barasuara, karena baru beli. Ketika sampe ke track-4, Hagia, dia tiba -tiba komentar, "Lagunya bagus deh". "Iya kan? Liriknya bagus ya!" "Iya, liriknya bagus, pas sama judulnya." "Hah, emang judulnya apaan teh?" "Aku ga tau sih, tapi bukannya Hagia nama masjid ya? Hagia Sophia? Kalo dari liriknya sih menurut aku itu" "Ha? Masjid dimana? Dan dia pun menjelaskan bahwa Hagia Sophia adalah sebuah gereja yang dialih fungsikan jadi masjid di Istanbul. Tempatnya magis banget, karena kayaknya disitulah satu-satunya tempat dimana karena keunikan sejarahnya ada ini:
allah-muhammad-and-jesus-in-hagia-sophia
https://crimeblogproject.wordpress.com/2014/02/05/inferno/
Yes, that Muhammad SAW inscription, pictures of Mary and Jesus, and Allah SWT inscription, side by side. Aku merinding~ Flashback lagi tiba-tiba ke masa-masa gue dan temen-temen gue yang meskipun kepercayaan kita berbeda, tapi bisa kompak, bercanda-canda, dan sukses berprestasi (waktu itu kita juara 1 basket PL cup hehehehehehhe).   Unlike the youtube comment section nowadays. -- Lihat artikel sotoy gue nganalisa lagu Puan Kelana dari Silampukau disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *