Sotoy Menganalisa Lagu : Puan Kelana
Hari pertama 2017, No its not gonna be 2016 year in review, not gonna be 2017 resolution, even though It's the norm of what people should write in this first day of the new year. I promise myself I'm going to be more honest to myself this year, and that means learning to say "no" […]
Hari pertama 2017, No its not gonna be 2016 year in review, not gonna be 2017 resolution, even though It's the norm of what people should write in this first day of the new year. I promise myself I'm going to be more honest to myself this year, and that means learning to say "no" a lot more, and even more "yes" than 2016. Jadi dalam upaya lebih jujur kepada diri sendiri, hari ini saya mau tulis tentang lagu gubahan Silampukau, yang berjudul Puan Kelana. Disclaimer dulu sebelumnya, seperti tulisan saya sebelumnya tentang lagu Hagia dari Barasuara, juga The Beatles dan Float, ini pure ulasan sotoy dan pandangannya sangat subjektif menurut saya sendiri, berdasarkan pengalaman yang telah terjadi, dan mimpi yang saya miliki. Jika sudah paham yuk mari~
  1. Jadi saya bener-bener baru dengar lagu ini pada hari terakhir di 2016, lagi-lagi saya nge-discover lagu baru dari spotify. Pikiran saya stuck di lagu ini dan langsung saya repeat 3x sambil cari liriknya gara-gara beberapa alasan:
  2. liriknya ber-rima a,a,a,a (entah kenapa saya punya fetish saya lagu ber-rima kayaknya)
  3. ada kata kota Surabaya dan Paris dalam satu lagu
  4. penggalan lirik yang sederhana namun fantastis maknanya ini:
    Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh, anggur sama memabukkannya, entah Merlot entah Cap Orang Tua.
  5. Lagu ini jujur, perbedaan yang njomplang antara lirik dan musik; yang satu secara desperate ingin mempertahankan pemikirannya, yang satu mencoba ikhlas dan happy akan keadaan.
  6. Surabaya adalah tempat lahir ibu saya tercinta.
Entah anda berpikir seperti ini atau tidak, ketika saya dengar lagu bagus saya selalu menempatkan diri sebagai tokoh utama di lagu itu. Tapi ketika ada lagu-lagu tertentu yang memang saya tidak bisa menempatkan diri disitu, saya akan me-recreate cerita fiktif berdasarkan lirik lagu tersebut. Cerita yang saya buat sama sekali tidak vivid, tapi setidaknya membantu saya ketika mendengar lagu tersebut untuk menyelami lagu tersebut, entah cerita yang saya karang benar atau tidak ya!   https://www.youtube.com/watch?v=SV-K8NQ0cD4
Kau putar sekali lagi Champs-Elysees. Lidah kita bertaut a la Francais. Langit sungguh jingga itu sore, dan kau masih milikku. Kita tak pernah suka air mata. Berangkatlah sendiri ke Juanda. Tiap kali langit meremang jingga, aku ‘kan merindukanmu. Ah, kau Puan Kelana, mengapa musti ke sana? Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama. Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh, hujan sama menakjubkannya, di Paris atau di tiap sudut Surabaya. Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant. Kau penuhi kepalaku yang kosong; dan Perancis membuat kita sombong, saat kau masih milikku. Kita tetap membenci air mata. Tiada kabar tiada berita. Meski senja tak selalu tampak jingga, aku terus merindukanmu. Ah, kau Puan Kelana, mengapa musti ke sana? Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama. Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh, anggur sama memabukkannya, entah Merlot entah Cap Orang Tua . Aih, Puan Kelana, mengapa musti ke sana? Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa, seperti Surabaya.

Dari lirik diatas, di kepala saya langsung terbayang tentang seorang pemuda asli surabaya, yang bangga akan kotanya, negaranya. Ia sedang merintis sebuah usaha yang akhirnya setelah beberapa lama jatuh bangun, keadaan mulai menatap naik. Sang pemuda ini juga seorang biduan dalam waktu luangnya, sekedar untuk menghilangkan lara atau mengadu kepada yang maha esa. Dalam perjalanan menuju dewasanya ia bertemu dengan seorang puan (panggilan untuk seorang nona / lawannya tuan) dan mereka selayak-layaknya sepasang pemuda-pemudi, pun jatuh hati. Mereka pun berjalan bersama, menjalani hidup yang tak tahu apa ujungnya. Selayak-layaknya pasangan yang beruntung, mereka pun jatuh cinta. Tapi sang pemuda belum sadar ada bibit-bibit perpisahan yang tumbuh di hati sang puan. Seiring dengan seringnya lagu Champs Elysees diputar ketika mereka sedang bercumbu, seiring itu pula sang puan mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan keinginan sejati hatinya untuk berkelana ke negeri jauh disana, kota yang untuk sebagian orang menjadi kiblat mode dan segala yang berkelas atas. Walaupun sang puan tahu, keputusannya itu akan menempatkan 12.000 kilometer, 1/4 hari, dan ratusan prasangka diantara hubungan mereka. Sang pemuda tentu saja kaget, di pikirannya sudah tergambar masa depan mereka berdua, yang tentu saja bayangan itu sama sekali tidak tercemar oleh paris dan segala tetek bengek kepalsuan duniawi-nya. Pikiran pertamanya sebagai seorang binatang liar yang akan kehilangan belahan jiwanya, tentu saja, CEGAH! Ubah pikirannya! Tetapi kata-kata bijak manusia berkata bahwa pasangan yang baik akan mendukung keinginan pasangannya untuk berkembang dan akan percaya bahwa bila ia pun cinta dikau, tiada yang akan terjadi yang merisaukan. Maka dengan mulut yang pahit dan berat, ia pun merestui keinginan sang belahan hatinya. Mulut bisa bilang apa, tapi hati lebih berat untuk berubah. Sang pemuda biduan ini akhirnya menggubah satu lagu yang berusaha meyakinkan untuk sang belahan hati untuk tidak meneruskan keinginannya untuk pindah ke paris, dan tetap berada di Surabaya. Sang pemuda mengingatkan akan hujan yang memaksa mereka berteduh mesra di halte dekat perempatan, tentang anggur cap orang tua yang mereka tenggak apabila kepala mereka terlalu penat akan rutinitas sehari-hari yang tidak peduli, dan tentang Surabaya yang mempertemukan mereka. Dari lagu ini sang pemuda bersikeras bahwa Surabaya itu sama hebatnya dengan Paris, bahwa sang Puan akan menyesal. Namun, apa mau dikata, sang puan sudah bulat tekad, sang Puan Kelana.
  Buat saya, lagu ini lebih dari sekedar lagu cinta untuk seorang kekasih. Personally, lagu ini menginspirasi saya yang punya sedikit trauma "not-being-good-enough". Pandangan sang penulis akan perspektifnya tentang surabaya itu sejajar dengan paris, dan bahwa ia bersiteguh merlot dan anggur merah itu sama memabukkannya, entah mengapa saya jadi percaya diri, bahwa sayapun, bisa sebagus siapapun yang saya mau, tergantung bagaimana cara saya melihat dunia. Jadi karena saya mau jujur sama diri sendiri, saya jujur kepada kalian bahwa sekarang saya tiba-tiba pengen nulis resolusi 2017 hehe. Jadi saya berniat untuk: 1. belajar nolak 2. belajar berani melakukan apa yang saya mau, walaupun harus sendirian 3. harus adil sejak dalam pikiran - assumption kills 4. derives ke kalo ada kata yang gatau, langsung googling artinya 5. lari 2x seminggu 6. tidur 6-7 jam semalam Semoga postingan racauan ini bisa entah bagaimana menginspirasi anda, kapanpun dan dimanapun anda berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *