MONDO GASCARO, SORE, DAN BESERTA TAFSIRNYA
Setelah menonton konser peluncuran album Mondo Gascaro yaitu Rajakelana tanggal 21 Januari 2017 kemarin. Saya merasa perlu untuk membuat tulisan khusus tentang Mondo Gascaro. Sore adalah group band yang muncul ke permukaan pada masa kejayaan Aksara Records, yang membuat Sore spesial di mata dan pendengaran saya adalah aransemen lagu-lagunya yang kompeks (kecuali album terakhirnya yaitu Los Skut […]
Setelah menonton konser peluncuran album Mondo Gascaro yaitu Rajakelana tanggal 21 Januari 2017 kemarin. Saya merasa perlu untuk membuat tulisan khusus tentang Mondo Gascaro. Sore adalah group band yang muncul ke permukaan pada masa kejayaan Aksara Records, yang membuat Sore spesial di mata dan pendengaran saya adalah aransemen lagu-lagunya yang kompeks (kecuali album terakhirnya yaitu Los Skut Leboys). Album Centralismo dari Sore saya nilai sempurna tanpa pengecualian dan menjadi album yang akan saya dengarkan sepanjang hayat. Jarang sekali group band indie yang menggunakan wind instrument (seperti saxophone, clarinet, bahkan french horn) dan string instrument yang biasa digunakan di suatu orkestra di dalam komposisi lagu-lagunya. Musik Sore bisa dibilang berubah setelah Mondo Gascaro keluar karena ternyata lead composer Sore adalah Mondo Gascaro. Selain Mondo saya juga mengidolakan Bemby Gusti karena lagu Etalase dan 400 Elegi yang begitu menarik. Walaupun saya tidak tau, tetapi seolah saya yakin bahwa yang membuat aransemen wind instrument di dalam kedua lagu tersebut adalah Mondo.  

Siapa itu Mondo Gascaro?

Kalian tau Payung Teduh?  Ternyata album Payung Teduh yaitu Dunia Batas yang sangat fenomenal itu diproduseri oleh Mondo Gascaro. Terdengar begitu merdu dan romantis suara biola di dalam album ini. Tidak hanya itu,  Ayushita yang merupakan anggota Bukan Bintang Biasa (BBB) pernah bekerja sama dengan Mondo Gascaro di lagu Sehabis Hujan. Lagu Sehabis Hujan telah sukses membuat saya suka dengan lagu Ayushita, walaupun mungkin hanya suka satu lagu saja. Begitu saktinya Mondo Gascaro dalam membuat suatu aransemen lagu yang tidak hanya menggunakan instrumen seperti gitar, drum, dan bass yang merupakan alat musik yang biasa digunakan group band modern dalam membuat suatu lagu. Mondo Gascaro telah berhasil membuat saya menikmati musik "anak muda" seperti saya menikmati musik jazz. Setelah Aksara Record bubar tahun 2004, indie music scene Indonesia seperti tercerai berai sehingga terlihat sulit untuk mengumpulkan group band berkualitas  baru ke dalam suatu lingkungan serupa. Walaupun sebenarnya group band indie baru saat ini banyak yang berkualitas akan tetapi sulit untuk dideteksi keberadaannya. Saya menemukan beberapa band indie baru yang berkualitas secara tidak sengaja karena tersesat di dalam belantara Youtube. Ivy League Music muncul, sepertinya terdapat nama-nama lama dari Aksara Record yang saya deteksi yaitu Sarah Glandosch (yang ternyata adalah istri dari Mondo Gascaro). Akan tetapi pada saat saya membuat tulisan ini, website Ivy League Music tidak dapat diakses seperti sebelumnya. Terbukti memang sulitnya mencari cuan di dunia musik Indonesia.  Mondo Gascaro mendirikan  Ivy League Music dengan Istrinya, akan tetapi saya tidak melihat Sore sebagai artist di dalam management Ivy League Music.  

Mengapa Mondo Gascaro keluar dari Sore?

Pertanyaan tersebut yang selalu ingin saya ketahui, tetapi sampai saat ini saya tidak mengetahui alasan tersebut. Jika Mondo dan Sore membuat konser reuni maka dapat dipastikan saya akan berangkat untuk membeli tiketnya. Saya sempat menonton Sore manggung di Salihara tanpa Mondo. Disitu saya merasa aura Sore seperti sekumpulan orang sendu yang kehilangan seseorang. Entah mengapa saya sedih pada saat menonton konser itu, tidak seperti Sore tanpa Mondo di video Sound From the Corner. Sore adalah group band yang telah jenuh dipuja-puja. Seingat saya Ade Paloh sempat membuat statement itu di dalam suatu wawancara, sayangnya wawancara tersebut tidak dapat saya temukan lagi. Sebelum Mondo keluar dari Sore, Ade Paloh sudah terlebih dahulu keluar dari Sore, walaupun pada akhirnya datang kembali. Dono Firman merupakan orang yang terakhir masuk ke dalam formasi Sore dan orang pertama yang keluar dari Sore. Alasan dari Ade Paloh keluar dari Sore merupakan alasan yang sangat menarik untuk dibahas disini. Secara garis besar alasan Ade Paloh keluar dari Sore karena Sore sudah menjadi group band yang terkenal di segmennya.
"Kita bikin lagu buat ngehibur diri sendiri. Tapi sekarang buat ngehibur orang. Dengan musik Sore yang udah dikenal seperti itu, ya harus bikin yang begitu. Dan gue capek."Kata Ade Paloh
Statement Ade Paloh di atas mungkin dapat menjadi kata kunci untuk mendeskripsikan mengapa seorang Mondo Gascaro keluar dari Sore. karena memang musik adalah suatu ekspresi yang dikategorikan sebagai suatu kesenian (art). Sehingga pembuatan musik tersebut tidak dapat dipaksakan. Jika menjadi suatu rutinitas dan sebagai mata pencaharian pastinya kualitas penciptaan musik tersebut berkurang seiring berjalannya waktu, walaupun memang gejala ini tidak dirasakan oleh musisi jazz yang semakin tua semakin matang yang dilihat dari pemilihan nada dan teknik bermain suatu instrumen. Jika kita lihat, sangat sedikit group band yang masih terkenal pada masa sekarang yang mempunyai lebih dari dua album yang dikategorikan bagus. Untuk Sore sendiri sepertinya telah selesai di Centralismo dan Ports of Lima. Saya punya anggapan bahwa kualitas penciptaan lagu seorang musisi menurun setelah tidak adanya konflik percintaan. Maka dari itu, pencipta lagu yang baik rata-rata di bawah umur 40 tahun. Untuk menciptakan suatu musik yang baik maka kita harus selalu berada pada suatu posisi tidak ajeg. Karena rutinitas membuat kemampuan otak kita menurun (Buku: The Power of Habit, Charles Duhigg). Dengan berada di dalam suatu suasana yang baru dan adanya suatu perubahan di dalam hidup, maka otak kita akan melakukan suatu penyesuaian di dalam lingkungan baru tersebut dan menimbulkan ide-ide yang baru. karena alasan itulah mungkin Mondo Gascaro menamai albumnya Rajakelana. Disamping itu saya melihat suasana dari album Rajakenala ini sangat berbeda dengan mood dari Sore. Saya merasa Mondo Gascaro terbebas dari ego-ego lainnya dan murni menjadi dirinya di dalam album ini. Walaupun sampai kapanpun saya tetap lebih suka Mondo bersama Sore di album Centralismo dan Ports of Lima.   Segala asumsi tanpa data merupakan pendapat pribadi penulis. __________________________________________________   Referensi: https://www.jakartabeat.net/resensi/konten/10-tahun-sore-kembalinya-ade-paloh?lang=id http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/03/130308_payungteduh_musik https://hot.detik.com/music/1472276/alasan-ade-paloh-tinggalkan-band-sore http://www.last.fm/de/user/macadamilka/journal/2009/01/24/2fcwea_here_comes_the_6th_man_of_sore_-_dono_firman Ayusitha Memaknai Embun Pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *