Nonton Yuk: The Crown
Seperti biasa, buat intro gue bakal ngasih penjelasan ngalor-ngidul tentang kenapa gue memutuskan untuk bikin tulisan ini. Jadi ceritanya, Setelah temen gue bikin serial tulisan sotoy menganalisa lagu, sekarang gue pengen ikutan juga, yaitu sotoy menganalisa film. Tapi masalahnya, yang gue analisa ini bukan film, melainkan TV series, dan ke depannya juga mungkin gue bakal […]

Seperti biasa, buat intro gue bakal ngasih penjelasan ngalor-ngidul tentang kenapa gue memutuskan untuk bikin tulisan ini. Jadi ceritanya, Setelah temen gue bikin serial tulisan sotoy menganalisa lagu, sekarang gue pengen ikutan juga, yaitu sotoy menganalisa film. Tapi masalahnya, yang gue analisa ini bukan film, melainkan TV series, dan ke depannya juga mungkin gue bakal ngebahas film yang gue suka, tapi sekarang emang lagi pengen nulis tentang TV series ya. Jadi gue putuskan buat bikin serial tulisan baru: “Nonton Yuk”. Nama yang catchy, bukan? Lanjut.. Masuk ke pembahasan, sejujurnya gue bingung mau mulai dari mana, karena menurut gue series yang gue tonton ini KEREN MAMPUS. Coba deh gue kenalin dulu ya, TV series ini berjudul The Crown, salah satu original series yang diproduksi oleh Netflix. Season 1 nya baru aja keluar di tahun 2016 kemarin. Sinopsisnya, series ini bercerita tentang drama kehidupan satu keluarga yang selalu jadi pusat perhatian publik dunia selama 100 tahun terakhir ini. Keluarganya siapa tuh? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah the Windsor Family, keluarga Kerajaan Inggris. Lebih spesifik lagi, series ini menggambarkan kehidupan Queen Elizabeth II, ratu Inggris dan koloninya selama periode sebelum naik tahta, dan setelah naik tahta. Timeline di season 1 ini berkisar antara tahun 1947 hingga tahun 1955. Kingdom, history, drama, they all sound pretty boring right? GTFO then. Sekarang, gue mau cerita kenapa gue bisa hooked banget ama ini series. Bermula dengan akhir pekan yang berasa santai-santai gabut dan bosen sama kehidupan yang itu-itu aja, gue buka netflixnya temen gue (iya gue nebeng nontonnya). Pas lagi ngecek tontonan yang kira-kira bakal sabi, muncul nih, thumbnailnya The Crown, pas liat ratingnya 5 out of 5 stars (iya gue budak rating), langsung pencet play. Mau tau yang terjadi selanjutnya? Gue marathon season 1 ampe kelar.
    Jadi gini guys, menurut gue, ada beberapa poin yang bikin TV series itu keren, dan cocok banget buat dimarathonin. Poin-poin itu adalah:
  1. Cerita & Pacing

Mungkin karena gue suka sejarah dan agak-agak anglophile, gue langsung terjual dengan ceritanya The Crown ini. Tapi, menurut gue lagi, yang nulis screenplay nya the Crown ini bener-bener jago. Kenapa? Karena doi bisa mainin emosi kita hanya dalam 1 episode doang. Dalam TV series, buat bikin orang hooked, berarti pilot episode a.k.a episode pertamanya berarti harus menarik banget kan, nah itu yang menurut gue bisa di deliver ama scriptwriternya. One of the best pilot I’ve ever saw in TV series. Dan seiring berjalannya episode, series ini selalu bisa bikin kita terpikat ama ceritanya, just like that feeling of want to know more, want to watch more.
  1. Casting & Acting

Tanpa acting dan cast yang bagus, mau ceritanya sebagus apapun juga ya ngga bakal sedap untuk ditonton, apalagi untuk series seambisius ini, dengan mengangkat cerita tentang keluarga kerajaan Inggris, it's easier for this one to fail. Bayangin aja, as an actor and actresses, you have to step in the shoes of some of the big names in the world. Misalnya, buat meranin Queen Elizabeth II atau Winston Churchill atau King George VI, ngga bisa main-main kan, karena mereka itu adalah simbolnya Inggris. Diperlukan acting yang bagus dan masterful, supaya penonton bisa ngeliat orang-orang tadi itu hidup dalam peran yang dimainkan oleh aktor dan aktris tersebut. Once again, they can delivered that, perfectly.
  1. Original Score

a.k.a. music, pastinya sangat berperan dalam menentukan atmosfir dari suatu cerita. Dan ini juga salah satu yang bikin gue hooked banget ama The Crown, ya gimana ngga, yang bikin original soundtracknya Hans Zimmer broh. Buat orang yang doyan, pasti tau kan bagaimana musik tuh bisa mainin perasaan kita (sama kaya cewek). Perasaan macem haru, sedih, awestruck, merinding2 disko, itu bisa tercipta karena ada musik yang mengiringi sebuah adegan. Kalau diibaratkan pas lagi masak, musik tuh kaya msg yang bikin makanan lebih berasa gurih pas dimakan nantinya. Lagi-lagi, series ini berhasil memainkan emosi gue dengan original score-nya.
3 hal ini lah yang menurut gue membuat TV series itu keren, tapi ya masih keren. Terus bisa sampe KEREN MAMPUS kenapa? Jawabannya: tema sentral yang ada di sepanjang series. Jadi apa sih tema sentral yang ada di The Crown?

Jawabannya: cara mengatur hidup dengan peran yang udah didesign oleh environment terhadap kita. Bingung? Ya gue juga. Tapi coba deh gue elaborasi dengan lebih detail lagi mengenai peran itu sendiri. Dalam kehidupan sosial, setiap manusia itu pasti punya peran yang harus mereka jalani. Misalnya, peran kita sebagai anak terhadap orang tua, atau kebalikannya sebagai orang tua terhadap anak, suami ke istri, atau istri ke suami, peran sebagai teman ke teman, bisa juga lanjut lagi ke pekerjaan misalnya, sebagai bawahan ke atasan, atau atasan ke bawahan. Udah lumayan dapet kan ya arti “peran” di sini tuh apaan. Peran-peran ini lah yang bakal berpengaruh banyak terhadap quality of relationship lo sama orang-orang di sekitar lo. Namun di sisi lain, manusia juga punya impian yang ingin mereka capai sebagai tujuan hidupnya. Nah, pertanyaan gue, apa jadinya kalau salah satu peran yang lo miliki sebagai manusia ini ternyata mengganggu peran lainnya yang udah lo miliki, yang juga bakal ganggu hubungan lo dengan orang di sekitar lo, dan akhirnya ganggu juga jalan menuju impian yang lo tuju? Wew berat yah, dan yang bikin gue mikir-mikir lagi tentang hal ini ya karena gue nonton The Crown. Series ini tuh bener-bener nunjukin kalau sebuah higher ideal kaya raja dan ratu juga ternyata cuma manusia biasa. Queen Elizabeth II misalnya, sebelom jadi ratu, doi tuh mengimpikan hidup sederhana dengan suami dan anak-anaknya, jauh dari sorotan dan perhatian publik. Tapi impian itu lenyap gitu aja setelah dia jadi ratu, karena dia punya peran baru yang harus dijalani. Misalnya perannya dia sebagai ratu yang punya berbagai macem tradisi, protokol, dan tugas yang harus dia jalani, kadang suka bikin susah buat dia untuk berperan jadi ibu yang pengen ngurusin anak-anaknya, dan hal ini juga yang menimbulkan konflik terhadap orang-orang di sekitarnya, dan pada akhirnya, Queen Elizabeth II belajar kalau perannya dia sebagai seorang ratu ngga akan pernah bisa dipisah dengan perannya yang lain, yaitu sebagai seorang istri dari suaminya, ibu untuk anak-anaknya, dan bahkan sebagai seorang wanita. Mungkin pelajaran yang bisa gue ambil itu tentang bagaimana cara lo ngatur work-life dan relationship balance supaya bisa hidup panjang umur dan bahagia. Buktinya? Liat aja Queen Elizabeth II, doi umurnya udah 92 loh sodara-sodara, suaminya 97, monarchy still intact, family still intact. All in all, semua itu lah yang bikin gue bilang kalo The Crown tuh KEREN MAMPUS. Menurut gue lagi, even this write-up didn’t do justice about this brilliant piece of a show. Jadi akhir kata, kalo lo belom nonton, nonton gih, kalo suka, syukur, kalo ngga ya udah. Rating: 10/10 GOD SAVE THE QUEEN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *