Chester Bennington, Linkin Park, and How He Saved My Life
Lagu Linkin Park Yang Paling Berkesan buat gue: Faint In The End Runaway Breaking The Habit Numb Kenapa? Back story dulu ya.  Oiya maaf ya ini ceritanya rada personal, because experiencing music is personal~ caelah lerrr —— Jadi orangtua guecerai di tahun 2000an, gue sejujurnya lupa kapan tepatnya, mungkin melupakan detil dari kejadian-kejadian tersebut adalah […]

Lagu Linkin Park Yang Paling Berkesan buat gue:

  1. Faint
  2. In The End
  3. Runaway
  4. Breaking The Habit
  5. Numb

Kenapa? Back story dulu ya. 

Oiya maaf ya ini ceritanya rada personal, because experiencing music is personal~ caelah lerrr

——

Jadi orangtua guecerai di tahun 2000an, gue sejujurnya lupa kapan tepatnya, mungkin melupakan detil dari kejadian-kejadian tersebut adalah salah satu defensive mechanism ogut. Seinget gue either SMP kelas 1 atau 2. Menurut gue, experience anak broken home sebelum dan sesudah akses dan kecepatan internet luas dan memadai cukup berbeda. Sakitnya sih sama, cuma experiencenya beda.

Kalau anak sekarang broken home, mereka bisa googling keyword “how to cope when your parents are getting a divorce” dan ribuan referensi akan dapat membantu mereka. Walau mungkin pahitnya sama, mungkin mereka akan lebih terbuka untuk cerita dengan teman, atau curhat secara anonim di reddit / forum apalah. Paling nggak, mereka punya teman berbagi kalau mereka malu cerita sama temen-temen offline mereka.

Tetapi ketika ini terjadi di masa internet itu sama dengan bangun subuh dan nutupin celah pintu pake keset supaya suara pas mau konek ke internetnya telkomnet instan nggak kedengeran sama orang rumah, hal-hal yang gue sebutin diatas adalah sebuah kemewahan, sama kayak makan nasi padang pake ayam bakar, kikil, dendeng batokok, sama telor dadar di tanggal tua. 

Betul, dulu gue kenal internet di usia cukup muda (pada masanya, sekarang mah anak baru lahir udah dibikinin instagram) , dulu seinget gue, address website yang saya ketik pertama adalah www.games.com, kecewa karena kayanya waktu itu websitenya pake flash, dan selama setengah jam ga selesai-selesai loading; lalu sebagai remaja yang aroused hanya dengan ngeliat shizuka mandi di panel komik, naturally saya coba www.sex.com, waktu itu saya inget landing pagenya adalah cewek blond, lagi pake bikini, tangannya nutupin tetek ♥. Anyway hehe, poinnya adalah ketika itu, internet buat saya bukanlah sebuah benda yang bisa menyelesaikan masalah seorang anak yang bapak-ibunya akan bercerai. Apalagi cerita sama orang lain.

Which brings us ke judul dari tulisan ini, betapa pada masa-masa itu teman saya yang mengerti keluh kesah dan kata-kata kasar yang dipendam di dada saya hanyalah lagu lagu mp3 bajakan yang di play di winamp dari album hybrid theory dan meteora. Lagu-lagu nya waktu itu saya download dari #indomp3z di MIRC kayaknya. 

Untuk menjelaskan kenapa lagu-lagu mereka sangat berpengaruh untuk saya, saya harus kasih konteks sedikit nih ya, sabar dikit yes. 

Sebelum Badai: (caelah jadi ke-barasuaraan gini wk)

Jadi gini, ketika orang tua lo akan bercerai, lo sebagai anak pasti udah ngerasain ada yang salah dengan mereka. Lo denger om atau tante yang bisik-bisik, kelakuan aneh dirumah, mulai jarang pergi makan bareng pas weekend, dll dll. (Mungkin kalo gw bikin tulisan tentang ini seru juga kali ya).

Nah pas lo merasakan kejadian-kejadian di sekeliling lo, sebagai anak yang baru masuk masa adolescent lo, lo tuh ga sepinter dan ga se aware itu dengan kehidupan. Objective hidup gue waktu itu adalah ngeliatin cewek dan adek kelas cantik, main basket, dan main cs online di warnet (wkt itu suka ke next game melawai, atau euro deha). 

Jadi ketika dikasih realita kehidupan seperti itu, lo bingung, lo sebagai anak usia 13/14 tahun sama sekali nggak dipersiapkan bagaimana lo harus bersikap ketika akan terjadi situasi kayak tai seperti itu. Despite gue aware akan perubahan-perubahan kecil yang gue rasain di rumah, gue ngerasa gue ga punya power apa-apa untuk at least nanya sesuatu ke mereka. 

And time goes on.

Badai sedang berlangsung:

Gue sejujurnya lupa, persisnya kapan gue dikasih tau tentang keputusan mereka untuk pisah, tapi gue masih inget rasanya. 

Rasanya:

  1. Gue marah, kenapa keputusan dua orang yang sudah dewasa bisa merugikan anaknya
  2. Gue marah, kenapa lo ngga berani untuk ngomong sesuatu untuk mencegah hal tersebut
  3. Gue bingung, apa yang bisa mengakibatkan dua orang yang tadinya cinta satu sama lain, pisah.
  4. Gue takut, apa yang akan terjadi sama gue.
  5. Gue malu. Keluarga gue ga sama dengan keluarga yang lain.
  6. Gue ngerasa sendiri.
  7. Gue kecewa
 

Setelah Badai Berlalu: (spoiler alert: badai pasti berlalu)

Seperti layaknya hal traumatis yang lain, menjadi anak dari keluarga broken home pasti memberikan efek jangka panjang, yang mungkin nggak disadari oleh objek penderitanya sampai belasan /puluhan tahun berikutnya. Hal itu membentuk gimana lo bersikap, gimana lo menilai dan melihat sesuatu, memberikan "weight" kepada aspek-aspek tertentu dalam hidup lo. Dalam kasus gue, gue (secara ga sadar) menitik beratkan kebahagiaan gue ke orang lain, jadi terlalu dependent dengan orang lain dan secara ga langsung menjadikan tanggung jawab mereka untuk bikin gue hepi. Jadilah w posesif~ hahaha, walaupun menurut gue, posesif gue belom di level lirik lagu posesif naif "bila ku mati kau juga mati" dan level yudis di film posesif yang jedot-jedotin kepala, tapi gue tetep posesif, yang menurut gue anjing sih haha. Kalo gue coba refer ke lirik lagu buatan bang pepeng Naif lagi, "mengapa aku begini?, jangan kau mempertanyakan" ya jelas jangan ditanya, orang gue juga GA TAU gue kenapa posesif hahaha. Nah traits gue yang satu ini lumayan ganggu kehidupan gue nih, sering gue jadi marah-marah ga jelas, emosi naik turun, mood swing, yang sampe ganggu kehidupan normal gue. Nah rasa-rasa itu, susah banget di share ke orang, karena dalam hati lo tau, yang lo rasain itu kurang normal. (Baru satu setengah taun yang lalu gue beraniin ke psikolog untuk pelan-pelan menyembuhkan diri sendiri, tapi itu cerita untuk lain hari~)   Outro

Nah, seperti sudah gue mention diatas, perasaan-perasaan diatas adalah perasaan yang harusnya nggak dirasain sama anak remaja pada umumnya, walaupun gue nggak bisa egois, banyak yang nggak seberuntung gue pada umur segitu, at least gue masih punya orang tua, dan punya rumah untuk tidur. 

Tapi perasaan-perasaan diatas tetep nggak enak cuy, apalagi dipendem sendiri. 

Banyak sih pelampiasan gue waktu itu, cuma yang paling healing menurut gue adalah dengerin Chester (RIP) teriak. 

Ketika lo nggak bisa cerita, nggak bisa berbagi perasaan lo ke orang lain, malu untuk reach out ke orang lain, waktu itu teriakan chester yang nyampe ke gue. Disamping lirik-liriknya yang penuh dengan rasa kecemasan, marah, dan ketakutan, cara dia nyampein “rasa” tersebut dengan teriakan yang mungkin menurut orang lain kasar, malah menurut gue adalah salah satu cara beliau untuk menolong. Menolong siapa? Menurut saya, selain menolong orang lain dengan cara ngasih tau mereka, bahwa mereka nggak sendiri; juga untuk menolong dirinya sendiri. Masa kecil Chester juga minta ampun sih, gue ga ada tai-tainya. 

Dan gue bisa bilang, at least untuk diri gue sendiri, Chester berhasil menolong gue. Walaupun mungkin pada akhirnya dia nggak bisa menolong dirinya sendiri, gue yakin dia at least nyelametin jutaan orang dengan suara dan musiknya.

So yeah, I owe this guy a lot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *